Sabtu, 27 Maret 2010

Penghawaan Alami ( Natural Ventilation )

Pergantian udara panas dengan udara dingin dari luar merupakan proses yang diharapkan pada waktu musim panas. Namun dibeberapa kondisi iklim hal tersebut tidak memungkinkan karena temperatur luar justru lebih panas daripada temperatur dalam bangunan. Hal tersebut sangat penting diperhatikan jika akan melakukan teknik penghawaan alami. Sebab dibutuhkan udara dengan temperatur yang lebih rendah untuk efektifitas pendinginan permukaan tubuh.

Proses penghawaan alami membutuhkan pendorong terjadinya proses tersebut. Bentuk bangunan menentukan kekuatan terjadinya penghawaan alami. Secara mendasar, ukuran dan lokasi dari tempat masuknya udara kedalam bangunan menentukan kemampuan untuk menangkap dan mengarahkan aliran udara kedalam bangunan. Perancangan bangunan dapat menggunakan ventilasi, atrium, bentuk bangunan ramping , lingkungan denah terbuka, struktur bangunan massif, cerobong, sirip, dan dinding ganda. Pada hybrid system digunakan jendela yang dapat dikontrol secara motorik.

Proses aliran udara dapat didorong dengan beberapa kondisi antara lain adalah mengarahkan aliran udara, pemanasan dan pendinginan yang dilakukan oleh radiasi matahari evaporasi atau thermal mass. Prinsipnya dengan melakukan variasi terhadap tekanan udara (wind driven ventilation) dan temperatur (stack.effect ventilation dan thermo syphon effect).

Pendinginan udara sebelum masuk kedalam bangunan juga dapat dilakukan untuk mendapatkan udara dingin. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan evaporative cooling atau geothermal cooling.
Bangunan dengan tingkat ekspos thermal mass yang besar, sangat memungkinkan untuk melakukan pendinginan dengan strategi natural ventilation dengan teknik pendinginan waktu malam hari (night purge ventilation). Teknik tersebut dapat dilakukan dengan rentang relatif diurnal dimana temperatur malam hari mempunyai selisih 20-22 derajat Celcius.

Karakteristik :
Secara umum panas, kelembaban tinggi disebabkan adanya angin dari arah utara dan selatan hemisphere mengumpul dan naik pada pertemuan permukaan tropis, menyebar kemudian dingin pada saat bersamaan. Karakteristik antara lain :
• kelembaban dan curah hujan tinggi sepanjang tahun
• temperatur tinggi sepanjang tahun
• temperatur diurnal bervariasi sekitar 8 der Cel.
• Sedikit variasi dalam temperatur
• Lahan datar dan angin laut mempunyai peranan utama wilayah pantai
• Intensitas radiasi matahari bervariatif dengan kondisi berawan

Tujuan dari perancangan bangunan pada iklim tropis lembab ini adalah mereduksi temperatur panas, memaksimalkan rata-rata ventilasi udara untuk meningkatkan efektifitas dari evaporasi, dan mengusahakan proteksi terhadap sinar matahari, hujan dan serangga. Prinsip-prinsip tersebut antara lain adalah :
• Gunakan pintu dan jendela yang besar untuk menjalankan ventilasi silang.
• Perencanaan secara terbuka dan luas, usahakan terdapat jarak antar bangunan
• Angkat bangunan (panggung) aga lantai dingin dan menaikkan jendela untuk ventilasi yang lebih baik.
• Orientasi bangunan diusahakan memperhitungkan aliran datangnya udara segar
• Overhang yang panjang untuk melindungi dari sinar matahari langsung
• Gunakan sliding screen untuk melindungi dari badai dan serangga di malam hari.
• Gunakan material dengan thermal mass rendah untuk meminimalkan heat storage.
• Gunakan double roofs dengan 2 layer dan ventilasi.
• Gunakan material atap dengan insulasi tinggi.





Kamis, 25 Maret 2010

Passive Cooling Strategies

Natural ventilation
Tergantung hanya pada gerakan udara sejuk penghuninya. Bukaan jendela pada sisi berlawanan dari gedung meningkatkan ventilasi didorong oleh angin. Karena angin alam tidak bisa dijadwalkan, desainer sering memilih untuk meningkatkan ventilasi alami dengan menggunakan ruang-ruang di dalam gedung-gedung tinggi yang disebut tumpukan. Dengan bukaan di dekat bagian atas dari tumpukan, udara hangat dapat melarikan diri, sementara udara dingin memasuki gedung dari bukaan di dekat tanah. Memerlukan ventilasi bangunan untuk terbuka pada siang hari untuk memungkinkan aliran udara.
High thermal mass
Tergantung pada kemampuan bahan bangunan untuk menyerap panas pada siang hari. Setiap malam rilis massa panas, sehingga siap untuk menyerap panas lagi keesokan harinya. Agar efektif, termal massa yang harus dihadapkan pada ruang-ruang hidup. Bangunan hunian dianggap memiliki massa rata-rata ketika massa yang terbuka luas sama dengan luas lantai. Jadi, untuk setiap meter persegi luas lantai ada satu kaki persegi massa terkena panas. Sebuah lempengan lantai akan menjadi cara mudah untuk mencapai hal ini dalam sebuah desain. Massa bangunan tinggi akan memiliki hingga tiga meter persegi massa terbuka untuk setiap meter persegi luas lantai. Perapian batu besar dan interior dinding batu bata dua cara untuk memasukkan massa tinggi.
High thermal mass
With night ventilation bergantung pada panas harian penyimpanan massa termal malam dikombinasikan dengan ventilasi yang mendinginkan massa. Bangunan harus ditutup pada siang hari dan membuka pada malam hari untuk menyiram panas pergi.
Evaporative cooling
menurunkan suhu udara dalam ruangan oleh air menguap. Dalam iklim kering, ini umumnya dilakukan secara langsung dalam ruang. Tetapi metode tidak langsung, seperti atap kolam, biarkan menguapkan pendinginan untuk digunakan di daerah beriklim lebih juga.

Ventilasi dan pendingin menguapkan sering ditambah dengan cara mekanis, seperti penggemar. Meskipun demikian, mereka menggunakan secara substansial lebih sedikit energi untuk mempertahankan kenyamanan dibandingkan dengan sistem pendinginan. Hal ini juga dimungkinkan untuk menggunakan strategi ini sepenuhnya pasif dalam sistem yang tidak memerlukan mesin atau energi tambahan untuk beroperasi.

Teknik pendinginan pasif dapat digunakan untuk mengurangi, dan dalam beberapa kasus menghilangkan, mekanik persyaratan udara di daerah-daerah di mana pendinginan adalah masalah dominan. Biaya dan efektivitas energi pilihan ini sama-sama patut dipertimbangkan oleh pemilik rumah dan pembangun. Terkandung dalam bagian ini adalah aturan-aturan praktis dan penjelasan atau hal-hal penting dari sistem pendingin pasif.

Dalam banyak bagian barat daya, pendinginan musim panas adalah sama pentingnya dengan pemanas musim dingin. Dalam kering bagian dari negara, pendinginan adalah pertimbangan desain utama.
Termal kenyamanan di musim panas berarti lebih daripada menjaga suhu udara dalam ruangan di bawah 75 °. Temperatur tinggi, atau kelembaban yang tinggi (atau keduanya) dapat menyebabkan ketidaknyamanan yang berlebihan. Untungnya, daerah musim panas suhu tinggi cukup kering (kelembaban relatif biasanya rendah). Satu-satunya daerah yang cukup kelembaban yang tinggi, wilayah pesisir, juga berada di antara bagian-bagian keren wilayah di musim panas.

Ada tiga sumber utama yang tidak diinginkan musim panas: matahari langsung dampak pada bangunan dan melalui jendela dan skylight; perpindahan panas dan infiltrasi, eksterior suhu tinggi, melalui bahan dan elemen-elemen struktur dan internal panas yang dihasilkan oleh peralatan, peralatan , dan penduduk. Dari tiga, yang pertama berpotensi menjadi masalah terbesar di barat daya, tetapi biasanya yang paling mudah untuk mengontrol. Tabel 14 daftar panas perkiraan keuntungan dari tiap sumber untuk satu keluarga khas rumah terpisah dalam iklim di mana suhu rata-rata 75 ° F pada hari pada bulan Juli. Rumah yang dibangun untuk kode energi lokal dan berorientasi timur-barat, dan memiliki dua-pertiga dari total kaca menghadap ke selatan. Kaca yang tersisa terletak di dinding timur dan barat, dan semua kaca benar-benar unshaded. Bahkan dengan asumsi bahwa sinar matahari dapat dikecualikan dari interior di musim panas (prestasi yang sulit), rumah ini akan mengalami kelebihan beban panas dari 250 untuk 450 thousand BTU per hari pada Juli. Lebih parah lagi, rumah-rumah akan membutuhkan sekitar 4-8 ton pendingin udara masing-masing untuk menangani panas puncak keuntungan dan menjaga kamar nyaman di sore hari.

Senin, 22 Maret 2010

Tips Penataan interior Bergaya Modern Simple

Pergerakan gaya modern terjadi seiring dengan perubahan pada pola pikir, gaya hidup, dan sarana kebutuhan manusia. Setelah dilanda kejenuhan dengan pekerjaan yang sudah melelahkan di luar rumah, banyak di antara kita yang bila kembali ke rumah segalanya ingin lebih mudah dan praktis baik dari segi fungsi maupun estetika.

Oleh karena itu, pilihan gaya modern-simpel dirasa tepat dalam memenuhi kriteria kebutuhan gaya hidup yang serba praktis, fungsional, mudah perawatan, nyaman namun tetap indah dipandang mata.

Ada beberapa tips yang berkaitan dengan penataan interior yang bergaya modern simpel, diantaranya :

  1. Bidang-bidang dinding terbuka dapat diganti dengan pemakaian partisi atau divider untuk konsep rumah open plain layout supaya kesan ruang menjadi luas & serba terbuka.
  2. Agar penataan bisa berhasil, perhatikan keselarasan antara jumlah furniture dan space supaya dapat menghasilkan kombinasi estetika yang baik.
  3. Karena penataan bergaya simpel modern menitik beratkan pada pemakaian ruang secara maksimal yang memberi kesan serba terbuka, luas, rapi, dan bersih, jangan melupakan paduan faktor pencahayaan alami dan pencahayaan buatan agar terdapat efek nuansa ruang yang harmonis.
  4. Pemilihan garis desain furniture yang simpel tanpa ornamen menjadi syarat mutlak. Dalam kesederhanaan bentuk pun tetap ditampilkan detail-detail menarik dari ahan yang dipakai, misalnya serat kayu, warna dasar kayu, kombinasi material dalam satu desain mebel, misalnya kayu dan stainless steel, kayu atau logam dan kaca.
  5. Bahan kain dapat dipilih yang mempunyai tekstur menarik seperti kain bulu, motif halus, atau kasar, mengkilap atau pudar yang menambah kekayaan nuansa dalam penataan yang serba minim.
  6. Pemakaian warna-warna monokromatik atau senada dapat menjadi pilihan untuk penataan gaya ini karena memberi kesan sejuk dan tenang. Warna kontras seperti merah, oranye, kuning, dapat digunakan sebagai aksen.
  7. Agar ruang terasa lebih hidup, aksesori pernak-pernik tetap dapat dihadirkan asal tidak berlebihan.





















Sabtu, 13 Maret 2010

Strategi Langgam

STRATEGI LANGGAM MENURUT Ra. WONDOAMISENO
1. Penempelan unsur rinupa Arsitektur Masa Lalu ( AML ) pada Arsitektur Masa Kini ( AMK ).
2. Elemen fisik AML menyatu di dalam AMK
3. Elemen fisik AML tidak terlihat jelas di dalam AMK
4. Ujud (sosok) AML mendominasi AMK
5. Ekspresi ujud (sosok) AML menyatu di dalam AMK

Strategi Langgam pada Pusat Penidikan Alam & Budaya (PPAB) KALIANDRA




Faktor strategi langgam yang berhubungan dengan studi obyek kasus ( Pusat Pendidikan Alam dan Budaya, Kaliandra ), yaitu :
1. Elemen fisik AML menyatu di dalam AMK
2. Ujud (sosok) AML mendominasi AMK

Pembahasan :
Rumitnya Arsitektur Jawa, selain unsur-unsur dan ornamentasinya sering dianggap merepotkan oleh masyarakat jaman sekarang, begitu repotnya pula jika ingin melakukan re-intepretasi terhadap arsitektur Jawa. Namun hal ini tidak menjadi halangan bagi Bagoes untuk merancang Pusat Pendidikan Alam dan Budaya (PPAB) Kaliandra ini dengan sedemikian detailnya.
PPAB Kaliandra ini merupakan salah satu wadah bagi Khasanah Jawa Dengan dua wilayah utama, yaitu Kampoeng Bharatapura yang ada di bagian bawah yang berfungsi sebagai tempat penyambutan tamu dan yang kedua adalah kampoeng Hastinapura yang letaknya lebih tinggi yang diperuntukkan bagi tamu dengan level privasi dan layanan yang lebih tinggi. Kesan serba Jawa di sini, menjadi penting mengingat makin tersingkirnya budaya ini dalam hidup keseharian masyarakat modern. Mengingat pula, belum terlihat adanya upaya yang dengan sengaja mempertahankan ke-Jawa-an sebagai salah satu khasanah penting yang turut membentuk budaya nusantara.
Kaliandra sebagai pusat pendidikan alam dan budaya dengan tata pukal (massa)-nya yang mengambil susunan kampung Jawa tradisional, telah berhasil mengadopsi elemen fisik Arsitektur Masa Lalu (AML) yang menyatu di dalam Arsitektur Masa Kini (AMK). Hal ini nampak pada penggunaan atap joglo jawa pada Rumah Pedati, dimana pada bagian ujung-ujungnya terdapat ukiran khas jawa yang difungsikan sebagai ornamen dengan jumlah empat ukiran. Pada Pendopo Arjuna, atapnya tidak lagi menggunakan atap joglo jawa dengan empat buah ukiran di atasnya, melainkan telah berganti menggunakan atap joglo sumenep, dimana pada ujung-ujung atapnya berbentuk runcing atau meruncing, tanpa terdapat ukiran-ukiran seperti yang ada pada atap joglo sumenep. Perbedaan penggunaan bentuk atau model atap ini ditujukan untuk mengalihkan pandangan yang monoton dari keragaman budaya Jawa.




Tatanan massa masyarakat Jawa pada umumnya alun-alun berada tepat di depan bale desa atau sekarang disebut kantor dan di sekitarnya terdapat pemukiman penduduk, tempat ibadah dan lain sebagainya, biasanya tempat ibadah terletak di sebelah kanan dari alun-alun.



Pada Pendopo Arjuna ini terdapat elemen tiang penyangga atap joglo yang diadopsi dari peranan bangsa kolonial dalam proses kesejarahan arsitektur Jawa tradisional dan selain itu, juga terdapat Tlundakan ( portal yang diletakkan diambang bawah pintu ) yang berfungsi sebagai batas wilayah peralihan ruang menurut isyarat atau kepercayaan orang Jawa.

Pada wilayah Hastinapura juga didesain dengan serba Jawa, namun bangunan-bangunan yang ada pada wilayah ini lebih terkesan sedikit modern, mengingat wilayah Hastinapura merupakan wilayah yang diperuntukkan bagi para tamu yang menginginkan privasi serta pelayanan yang tinggi. Tatanan masa atau pukal yang ada pada wilayah ini ,tidak menghadap ke arah alun-alun, tetapi menghadap ke arah perkebunan. Penggunaan beberapa elemen alam yang menyatu pada arsitektur Jawa ternyata dapat menghasilkan sebuah tampilan etnik nan chic. Lihat saja kumpulan bangunan-bangunan penginapan yang ada di wilayah Hastinapura ini.

Wujud (sosok) arsitektur masa lalu ( bangunan rumah jawa ) begitu mendominasi bangunan penginapan di wilayah Hastinapura, Kaliandra ini ( sebagai salah satu bangunan arsitektur masa kini ). Atapnya tidak lagi menggunakan atap joglo, namun tetap menggunakan atap ciri khas masyarakat Jawa. Elemen dindingnya tidak semuanya menggunakan material kayu seperti pada rumah-rumah jawa pada umumnya. Bagoes sengaja menghadirkan aksen berbeda pada sisi bagian belakang dan samping bangunan dengan memberikan tempelan-tempelan ornamen dari batu bata yang diekspos, sehingga fasade dari bangunan tidak akan terkesan monoton dengan material kayu saja. Penambahan serambi dengan bentuk yang simpel pada bagian depan bangunan semakin menambah kesan tradisional jawa. Semua sisi bangunan diberi bukaan agar kenyamanan di dalam bangunan tetap terjaga dan permainan cahaya temaram yang nampak di malam hari membuat bangunan penginapan ini terkesan hangat.

Meskipun konsep dari PPAB Kaliandra ini adalah kembali ke kampung halaman, dengan serba-serbi tradisional jawa, namun kesan modern juga tetap terasa. Tidak hanya atap joglo jawa dan material kayu saja yang digunakan pada tiap bangunan di Kaliandra ini, berbagai macam atap joglo ( atap joglo jawa tengahan, kudusan, jawa timuran, sumenep dsb.) dan elemen material batu bata yang diekspos juga ikut andil di dalam fasade bangunan-bangunan di PPAB Kaliandra ini.

Potensi Langgam pada Masjid Raya, SUMBAR

Di dalam dunia Arsitektur terdapat beberapa potensi langgam. Diantaranya :
  1. Langgam berpotensi untuk menunjukkan identitas lokalitas atau regionalitas sesuatu arsitektur.
  2. Langgam berpotensi untuk menunjukkan periodisasi dari kesejarahan arsitektur.
  3. Langgam berpotensi untuk menjadi faktor ’pengajeg’ dari upaya pengubahan tampilan arsitektur.
  4. Langgam berpotensi sebagai sumber gagasan atau tema dalam melakukan penghadiran dan pengaturan arsitektur.
Potensi Langgam pada Masjid Raya, Sumatera Barat


Faktor potensi langgam yang berhubungan dengan Masjid Raya SUMBAR, yaitu :
1. Langgam berpotensi untuk menunjukkan identitas lokalitas atau regionalitas suatu arsitektur.
2. Langgam berpotensi untuk menjadi faktor ’pengajeg’ upaya pengubahan tampilan arsitektur .


Pembahasan :
Masjid Raya Mahligai Minang ini mengadopsi faktor potensi langgam yang telah disebutkan di atas. Dimana Langgam berpotensi untuk menunjukkan identitas lokalitas atau regionalitas suatu arsitektur, yang terlihat pada penggunaan bentuk atap rumah gadang sebagai ikon Minangkabau yang dioptimalkan bentuknya sangat berpotensi secara fleksibel dan tidak hanya sebagai tempelan semata, mengingat pula Masjid Minang ini berlokasi di Padang ( Ibukota Prov. SUMBAR ) dimana di kota Padang ini juga memiliki rumah gadang sebagai ikon rumah adatnya. Selain bentuk atap rumah gadang, pakaian adat minang juga menjadi inspirasi arsitektur Masjid ini.



Masjid Minang yang berlokasi di Padang ini, selain berhasil memunculkan identitas lokalitas atau regionalitas arsitektur di kota Padang, SUMBAR, ternyata juga telah berhasil berpotensi untuk menjadi faktor ’pengajeg’ upaya pengubahan tampilan arsitektur ( tampilan baru dari sebuah masjid di kota Padang ). Kubah (dome) yang dewasa ini identik dengan arsitektur masjid di Indonesia sengaja tidak dijadikan elemen atap sebagai upaya meluruskan persepsi sejarah masjid yang umumnya melekat di benak masyarakat bahwa elemen kubah pada dasarnya tidak hanya digunakan di masjid tetapi juga banyak dipakai pada gereja-gereja di Rusia dan Eropa Timur bahkan di Vatikan. Sebaliknya sejarah masuknya Islam di Indonesia tidak ditandai dengan menjamurnya bangunan berkubah di kerajaan-kerajaan pra-Islam, melainkan melalui asimilasi budaya lokal dengan nilai-nilai universal Islam yang hasilnya dapat terlihat pada banyaknya bangunan masjid yang didominasi oleh bentuk arsitektur lokal ( Masjid Demak, Masjid Kanoman di Cirebon, Masjid Raya Kudus dan lain sebagainya ). Terpilihnya rancangan ini menunjukkan sudah berkembangnya wawasan internasional masyarakat Minang mengenai pengetahuan arsitektur Masjid yang tidak melulu terjebak dalam bentuk-bentuk yang seolah-olah ‘mentimurtengahkan dunia’ dengan arsitektur Arab, tetapi lebih mencoba berorientasi pada penerjemahan kreatif tentang nilai-nilai dasar Islam itu sendiri dengan adat-istiadat mereka.

Transformasi bentuk gonjong yang menghadirkan bentuk silhouette( outline ) rumah gadang, tidak hanya merupakan refleksi logis kebutuhan fungsinya, tetapi juga menandakan zamannya ters endiri di era sekarang ini.


Senin, 08 Maret 2010

Tips Interior Design pada Gaya Modern Zen

Gaya Modern Zen merupakan pengembangan aliran gaya dari perpaduan konsep Arsitektur modern dengan gaya tradisional Jepang. Gaya tradisional Jepang yang dikenal dengan filosofi Zen, dimana unsur-unsur bumi seperti tanah, kayu, air, batu dan udara terasa sangat mendominasi dalam memandang sebuah konsep hidup yang lebih sederhana, sehingga terlihat pada aplikasi penataan interior dan arsitekturnya.

TIPS PENATAAN INTERIORNYA :
  1. Unsur dekoratif sebaiknya digunakan seminimal mungkin.
    Pilih furniture dengan garis desain simpel namun memberi "kesan" pada ruang.
  2. Pemanfaatan bidang-bidang transparan kaca dan dinding akan memberi napas pada penataan ruang secara keseluruhan.
  3. Gunakan warna terang dan gelap yang seimbang sehingga tercapai keseimbangannya. Warna gelap atau terang akan menguatkan kesan Zen.
  4. Penataan furnitur dan obyek lain dalam ruang jangan terlalu padat, jangan sampai mengganggu ruang gerak mata memandang juga gerak manusia.
  5. Sisakan ruang gerak agar ruang terkesan mengalir dan nyaman.
  6. Jangan lupa membawa atmosfer dan "mood" ke dalam setiap penataan ruang.
  7. Pencahayaan alam dan buatan sangat penting dalam membentuk suasana ruang, selera (taste), musik dan sentuhan. Anda harus dapat merasakan kehangatan, kenyamanan dan aman bila berada di dalamnya.